Bunda Ayah...
Hari ini Kholid yang berusia 8 tahun pulang dari sekolah dengan wajah ceria. "Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, Yah...Jualan ku sukses dong hari ini!", terlihat kegembiraan dan kebanggaan di wajahnya.
"Oh..ya ? Memangnya kamu jualan apa nak ?".
"Aku kemarin beli pensil mekanik 3 buah, satunya aku beli 1500 rupiah. Tadi aku jual dengan harga 2000 satu pensil".
Subhanallah...Kholid dan saudara-saudaranya memang punya jadwal khusus mendengarkan cerita siroh nabawiyah (sejarah kehidupan Nabi Muhammad) dari sang ayah. Dia baru saja mendengar cerita bagaimana Rasulullah yang telah yatim piatu itu di asuh sang paman Abu Thalib. Rasulullah MuhammadShalallahu 'Alaihiwasallam tidak ingin menjadi beban dalam keluarga Abu Thalib sekalipun ia berada dalam tanggungan penuh pamannya. Rasulullah pun mendapatkan tambahan penghasilan melalui upayanya menggembala domba.
ما مِن نبيِ إلا ورعى الغنم
“Tidaklah dari seorang nabi melainkan ia menggembala kambing”.(Syaikh Al Bani mengatakan hadits ini Shohih).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan dia mengembalakan kambing”. Para sahabat bertanya: “Termasuk engkau juga?” Maka Beliau menjawab: “Ya, aku pun mengembalakannya dengan upah beberapa Qiroth untuk penduduk Makkah”. (H.R. Bukhari)
Rasulullah sudah mulai menggembala kambing sejak kecil, sebagian buku siroh menyebutkan di usia 8 tahun. Dan di usia 12 tahun sudah menyertai pamannya (Abu Thalib) untuk berdagang hingga ke negeri Syam. Ini adalah sebuah proses pembelajaran yang mahal untuk pelatihan kemandirian finansial.
Mendidik Kemandirian Finansial Anak, Perlukah ?
Mendidik Kemandirian Finansial Anak, Perlukah ?
Sebagaimana yang di lansir oleh Majalah Forbes.com (20 mei 2011) merujuk hasil survey terbaru yang dilakukan Harris Interactive lewat jajak pendapatonline oleh ForbesWomen dan National for Financial Education (NEFE)dari 1.074 responden orang dewasa yang bukan mahasiswa atau pun pelajar Amerika Serikat dengan batasan usia 18-39 tahun di peroleh bahwa 59% dari responden tersebut masih di dukung secara finansial dari orang tua mereka.
Ada pun alasan mengapa mereka para orang tua masih memberi dukungan finansial kepada anak-anak mereka yang sudah dewasa, 43% dari mereka mengatakan memberi dukungan finansial karena kekhawatiran mereka dengan kehidupan anak-anaknya. Sementara 37% mengatakan bahwa mereka sudah merasakan pahit getirnya perjuangan hidup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sehingga mereka tidak ingin anak-anak mereka merasakan hal yang sama.

Grafik di atas menggambarkan persentase dukungan finansial apa saja yang di berikan orang tua terhadap anak-anak mereka yang sudah dewasa.
Grafik di atas menggambarkan persentase dukungan finansial apa saja yang di berikan orang tua terhadap anak-anak mereka yang sudah dewasa.
Kebiasaan ini jelas memberikan pengaruh buruk dalam diri anak. Ia akan terus bergantung kepada orang tua guna memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Lihatlah bagaimana keluhan salah satu dari sekian banyak orang tua yang menciptakan model ketergantungan ini kepada anaknya. Sebut saja Lisa yang telah berusia 21 tahun. Setelah kegagalan dalam rumah tangganya dan ia bercerai dengan sang suami. Ia pun kembali ke rumah orang tuanya. Sekali pun ia bekerja pada sebuah toko roti dan memiliki penghasilan lumayan, tetap saja untuk keperluan keseharian dan transportasi ia meminta dari kedua orang tuanya. Bayangkan ketika orang tua sang anak tiba-tiba tidak ada ? Bukankah sang orang tua akan menciptakan ruang kelam bagi anaknya sendiri ?
Antara Umar bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Malik
Siapa yang tidak mengenal Umar bin Abdul Aziz ? Khalifah spektakuler yang di catat sejarah memimpin ke khalifahan Bani Umayyah dengan keadilannya. Di bawah kepemimpinannya tidak ada seorang pun di dalam kekhalifahan yang berhak menerima zakat. Sekalipun ia pemimpin tertinggi di kalangan kaum muslimin yang memerintah seluruh kekhilafan Islam yang luas. Dengan kekuasaan dan kekayaan yang ia miliki, ia tidak pernah memanjakan anak-anaknya.
Hal ini terlihat sangat jelas ketika ia memberikan harta warisan kepada anak-anaknya dimana setiap anak hanya mendapat setengah dinar. Angka yang sangat kecil untuk ukuran warisan seorang anak Khalifah. Perbandingan yang sangat mencolok terjadi masih di masa kekhalifahan Bani Umayyah, di bawah pimpinan Hisyam bin Malik. Dengan jumlah anak yang sama yakni 11 orang, Hisyam bin Malik mewariskan 1 juta Dinar. Apa yang terjadi kemudian ? Sejarah mencatat, tidaklah setiap anak Umar bin Abdul Aziz itu melainkan di kemudian hari menjadi kaya raya dan di kagumi kesholehannya. Bahkan kelak satu dari putra Umar bin Abdul Aziz menginfakkan 100.000 kuda untuk jihad fisabilillah. Sementara anak Hisyam bin Malik di kemudian hari tercatat dalam sejarah menjadi peminta-minta.
Doa dan Dukungan Buat si Pedagang Cilik
- حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ، عَنْ فِطْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ وَهُوَ يَبِيعُ مَعَ الْغِلْمَانِ - أَوِ الصِّبْيَانِ - فَقَالَ: " اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِي بَيْعِهِ - أَوْ قَالَ -: فِي سَفْقَتِهِ "
الكتاب: مسند أبي يعلى
المؤلف: أبو يعلى أحمد بن علي بن المثُنى بن يحيى بن عيسى بن هلال التميمي، الموصلي المتوفى: 307هـ)
Dari 'Amri bin Huraits, sesungguhnya Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam melewati Abdullah bin Ja'far dan ia sedang berjualan bersama anak-anak yang lain. Lalu Rasulullah berdo'a "Ya Allah berkahilah dirinya di dalam jual belinya". (Musnad Abi Ya'la)
Terbayang oleh kita Abdullah bin Ja'far yang masih kanak-kanak (belum baligh) sedang berdagang bersama teman-teman kecilnya yang lain. Pada saat nabiShalallahu'alaihi wasallam melihat hal itu. Nabi memberikan dukungan dan do'a kepada Abdullah bin Ja'far agar Allah memberikan keberkahan terhadap jual beli yang di lakukannya. Sebuah dukungan dan do'a dari orang yang sangat mereka kagumi dan cintai. Ini memberikan pemahaman kepada mereka bahwa apa yang sedang mereka lakukan adalah hal yang sangat positif, dan kalau kemudian Rasulullah memohon kepada Allah agar di berikan keberkahan di dalam perniagaan Abdullah bin Ja'far, itu artinya sebuah proses pendidikan dimana segala sesuatu yang Allah berkahi pastilah tidak akan melanggar aturan-aturan dan syari'atnya.
Tidak Mungkin Keharaman dan Kecurangan Bersanding dengan Keberkahan
"Nak, kamu malu-maluin ayah saja. Ngapain kamu pake jualan-jualan segala. Kamu mau ya, orang-orang jadi berpikir kalau ayah gak mampu kasih kamu uang ? "......
Bunda Ayah...
Tidak sedikit orang tua yang melontarkan kalimat seperti di atas ketika dia dapati anaknya mencoba untuk berdagang kecil-kecilan di sekolah kepada teman-temannya.Padahal sesungguhnya si anak sedang melakukan sebuah proses pembelajaran yang sangat positif untuk kemandirian finansialnya. Bukankah banyak pebisnis sukses hari ini justeru memulai usahanya dengan cara yang sangat sederhana ?
Melihat Abdullah bin Ja'far berniaga dengan teman-teman kecilnya bukanlah hal yang memalukan bagi Rasulullah yang merupakan keponakannya. Hal yang terjadi justeru sebaliknya. Sebuah dukungan dan do'a Rasulullah panjatkan untuk keponakan yang ia sayangi itu. Sebuah dukungan yang terlihat sepele tapi penuh makna. Bunda ayah, do'akan mereka sebagaimana Rasulullah mendo'akan ibnu Ja'far. Inilah sebuah pendidikan kemandirian finansial sejak dini yang melekatkan Allah subhanawata'ala kepada sebuah aktifitas ekonomi yang sangat sederhana. Tapi di sinilah awal mula pondasi tentang halal dan haram itu di bangun. Dari sini pula upaya untuk menghindari kecurangan itu di tegakkan karena tidak mungkin keberkahanan itu bersanding dengan keharaman dan kecurangan. Semoga Allah menjadikan diri kita untuk senantiasa mencintai NabiNya
Aku pun teringat masa kecilku,..orang tuaku yang memang berdagang batik disamping bekerja di salah satu instansi pemerintah tak pernah melarangku untuk berjualan...
Orang tua sebaiknya berdo'a "Ya Allah berkahilah dirinya di dalam jual belinya". (Musnad Abi Ya'la)
usaha yang pernah kulakukan... dari jual buah ceplukan bersama teman-teman. kami memetik buah dari persawahan milik warga dekat perumahan yang habis panen..ato di sekitar rumah-rumah kosong. hehe nakal sie.. lalu kami bersihkan dan kami jual seplastik kecil dengan 500 rupiah.. hasilnya kami buat beli minuman sprite dan makanan dan kami makan bersama-sama..
jual sepatu di sekolah...20 ribu per sepatu..sepatu ala cina aku menyebutnya..
jual alat gonio, vas, isom dsb.. saat kuliah
jual baju batik tapi terutama yang pesean-pesenan..hehe
hikmah : belajar usaha, pembentukan karakter leadership, sosial, tambah temen, tambah ilmu, tambah uang jajan, tambah pahala...
itulah asyiknya berwirausaha.. bahkan para sahabat dan rasulullah pun berdagang...kenapa kita tidak???
Aku pun teringat masa kecilku,..orang tuaku yang memang berdagang batik disamping bekerja di salah satu instansi pemerintah tak pernah melarangku untuk berjualan...
Orang tua sebaiknya berdo'a "Ya Allah berkahilah dirinya di dalam jual belinya". (Musnad Abi Ya'la)
usaha yang pernah kulakukan... dari jual buah ceplukan bersama teman-teman. kami memetik buah dari persawahan milik warga dekat perumahan yang habis panen..ato di sekitar rumah-rumah kosong. hehe nakal sie.. lalu kami bersihkan dan kami jual seplastik kecil dengan 500 rupiah.. hasilnya kami buat beli minuman sprite dan makanan dan kami makan bersama-sama..
jual sepatu di sekolah...20 ribu per sepatu..sepatu ala cina aku menyebutnya..
jual alat gonio, vas, isom dsb.. saat kuliah
jual baju batik tapi terutama yang pesean-pesenan..hehe
hikmah : belajar usaha, pembentukan karakter leadership, sosial, tambah temen, tambah ilmu, tambah uang jajan, tambah pahala...
itulah asyiknya berwirausaha.. bahkan para sahabat dan rasulullah pun berdagang...kenapa kita tidak???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar