Menulis pesan dan nasehat untuk anak. Ini adalah salah satu cara istimewa untuk melahirkan anak-anak yang istimewa. Hal ini dilakukan oleh orang-orang besar dalam Islam. Berikut ini beberapa tulisan para orangtua untuk anak yang diabadikan oleh sejarah.
Ad Darary fi Dzikr Adz Dzarari.
Buku kecil ini ditulis oleh Umar bin Ahmad al ‘Uqaili atau yang lebih dikenal dengan Ibnul ‘Adim (W: 660 H). Buku kecil ini berisi tentang cara mendidik anak. Di akhir buku ini, penulis berkata,
“Buku Ad Darary fi Dzikr Adz Dzarari ini selesai ditulis oleh al Faqir ila Rahmatillah ta’ala Kamaluddin Umar bin Ahmad bin Hibatillah bin Al ‘Adim al Halaby. Ditulisnya untuk Al Malik Adz Dzahir Al Ghazi yang baru mendapatkan anak Al Malik Al Aziz. Alhamdulillah, shalawat dan salam untuk Sayyidina Muhammad, keluarga dan shahabatnya.”
Buku ini tidak banyak penjelasannya. Tetapi banyak menukil ayat, hadits dan kisah sejarah sebagai pelajaran bagi para orangtua terutama bagi Al Malid Adz Dzahir dalam mendidik anak.
Seperti dalam bab ke delapan yang berjudul: Kewajiban Orangtua terhadap anak,
“Orangtua tidak boleh lalai dalam mendidik anaknya, menyatakan yang baik dari anaknya sebagai kebaikan dan menyatakan yang jelek itu jelek, mendorongnya untuk memiliki akhlak yang mulia, belajar ilmu dan adab, serta memukulnya jika tidak mau mengerjakan hal itu.
Nabi bersabda: Hak anak terhadap orangtuanya adalah memberinya nama yang baik, memberinya tempat yang baik dan mendidiknya dengan baik.
Dari Amr bin Dinar berkata bahwa Ibnu Umar dan Ibnu Abbas memukul anak-anak mereka berdua karena lahn (kesalahan kaidah dalam bicara)
Nabi bersabda: Pilihlah untuk (jatuhnya) nuthfah kalian.”
Bulughul Maram
Banyak orang yang tahu buku ini. Karya Ibnu Hajar (W: 852 H) ini adalah kitab hadits yang diurutkan berdasarkan urutan fikih dan ditutup dengan adab. Tetapi jarang yang tahu, kalau kitab ini sebenarnya ditulis untuk anaknya yang bernama Muhammad. Sebagaimana yang disampaikan oleh As Sakhawi dalam al Jawahir wad Durar, dia berkata,
“Aku pernah mendengar bahwa ayahnya (Ibnu Hajar) mengarang Bulughul Maram untuknya (Muhammad).”
Jadi, Ibnu Hajar mengarangnya untuk menjadi panduan ilmu bagi anaknya di kemudian hari. Dan ternyata kitab tersebut menjadi sangat terkenal, dijelaskan oleh para ulama dan kita pelajari hari ini. Begitulah keberkahan sebuah keluarga dalam panduan tulisan ilmu.
Washiyyah Abil Walid Al Baji Liwaladaihi
Buku ini berisi nasehat Abul Walid Al Baji (w: 474), seorang ulama besar Andalus yang berhasil menyelamatkan Andalus dari perpecahan para penguasanya. Nasehat bagi kedua anak laki-lakinya itu ditulis dengan dengan alasan yang disampaikan di awal nasehat,
“Wahai anak-anakku, semoga Allah memberi kalian berdua petunjuk, bimbingan, taufiq dan menjaga kalian berdua. Serta berkenan memberi kalian berdua kebaikan dunia dan akhirat. Semoga Dia menjaga kalian berdua keburukan keduanya dengan rahmat Nya.
Sesungguhnya ketika kalian berdua telah hampir mencapai usia harusnya kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban, mendapatkan taklif (beban syariat) dan aku yakin bahwa kalian berdua telah mampu memahami nasehat, melihat petunjuk dengan jelas, layak untuk mengajar dan berilmu, maka aku harus memberikan kepada kalian berdua wasiatku, mempersembahkan nasehatku, khawatir kematian mendahului ayah dan belum sempat mengajari, melatih, memberi petunjuk dan memahamkan kalian berdua.
Jika Allah memanjangkan usia; nasehat, pengajaran, petunjuk dan pemahaman ini akan berulang. Yang memberi taufik kepadaku hanyalah Allah, kepada Nya aku bertawakal dan orang-orang bertawakal. Di tangan Nya hati dan ubun-ubun kalian berdua.”
Nasehat ditulis dengan sangat berurut. Sangat jelas bahwa Abul Walid seorang ulama yang mengerti tentang urutan materi pendidikan. Isi nasehatnya dimulai dari hal yang paling penting yaitu aqidah, kemudian ibadah hingga muamalah antara mereka berdua dan dengan masyarakat luas. Berikut ini di antara isi nasehatnya tentang Al Quran,
“Bersabarlah untuk menghapalnya dan membacanya, selalu mentafakuri makna dan ayat-ayatnya, melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.”
Abul Walid juga memberi nasehat tentang hal-hal yang harus dijauhi, di antaranya,
“Jauhilah oleh kalian berdua lagu-lagu. Karena lagu-lagu itu menumbuhkan fitnah dalam hati dan melahirkan lintasan-lintasan jelek dalam jiwa.”
Berikut ini salah satu nasehat tentang interaksi antar dua anak tersebut,
“Jangan sampai salah seorang di antara kalian berdua lebih mendahulukan dirinya dalam hal dunia. Sehingga membuatnya menjadi pelit kepada saudaranya. Kemudian berpaling darinya dan bersaing dengannya. Siapa di antara kalian berdua yang diberi keluasan dalam hal dunia, maka ikut sertakan saudaranya, jangan hanya sendirian. Bersemangatlah untuk mengembangkan harta saudaramu, sebagaimana kamu bersemangat mengembangkan hartamu sendiri.”
(Budi Ashari)
http://parentingnabawiyah.com/
Ad Darary fi Dzikr Adz Dzarari.
Buku kecil ini ditulis oleh Umar bin Ahmad al ‘Uqaili atau yang lebih dikenal dengan Ibnul ‘Adim (W: 660 H). Buku kecil ini berisi tentang cara mendidik anak. Di akhir buku ini, penulis berkata,
“Buku Ad Darary fi Dzikr Adz Dzarari ini selesai ditulis oleh al Faqir ila Rahmatillah ta’ala Kamaluddin Umar bin Ahmad bin Hibatillah bin Al ‘Adim al Halaby. Ditulisnya untuk Al Malik Adz Dzahir Al Ghazi yang baru mendapatkan anak Al Malik Al Aziz. Alhamdulillah, shalawat dan salam untuk Sayyidina Muhammad, keluarga dan shahabatnya.”
Buku ini tidak banyak penjelasannya. Tetapi banyak menukil ayat, hadits dan kisah sejarah sebagai pelajaran bagi para orangtua terutama bagi Al Malid Adz Dzahir dalam mendidik anak.
Seperti dalam bab ke delapan yang berjudul: Kewajiban Orangtua terhadap anak,
“Orangtua tidak boleh lalai dalam mendidik anaknya, menyatakan yang baik dari anaknya sebagai kebaikan dan menyatakan yang jelek itu jelek, mendorongnya untuk memiliki akhlak yang mulia, belajar ilmu dan adab, serta memukulnya jika tidak mau mengerjakan hal itu.
Nabi bersabda: Hak anak terhadap orangtuanya adalah memberinya nama yang baik, memberinya tempat yang baik dan mendidiknya dengan baik.
Dari Amr bin Dinar berkata bahwa Ibnu Umar dan Ibnu Abbas memukul anak-anak mereka berdua karena lahn (kesalahan kaidah dalam bicara)
Nabi bersabda: Pilihlah untuk (jatuhnya) nuthfah kalian.”
Bulughul Maram
Banyak orang yang tahu buku ini. Karya Ibnu Hajar (W: 852 H) ini adalah kitab hadits yang diurutkan berdasarkan urutan fikih dan ditutup dengan adab. Tetapi jarang yang tahu, kalau kitab ini sebenarnya ditulis untuk anaknya yang bernama Muhammad. Sebagaimana yang disampaikan oleh As Sakhawi dalam al Jawahir wad Durar, dia berkata,
“Aku pernah mendengar bahwa ayahnya (Ibnu Hajar) mengarang Bulughul Maram untuknya (Muhammad).”
Jadi, Ibnu Hajar mengarangnya untuk menjadi panduan ilmu bagi anaknya di kemudian hari. Dan ternyata kitab tersebut menjadi sangat terkenal, dijelaskan oleh para ulama dan kita pelajari hari ini. Begitulah keberkahan sebuah keluarga dalam panduan tulisan ilmu.
Washiyyah Abil Walid Al Baji Liwaladaihi
Buku ini berisi nasehat Abul Walid Al Baji (w: 474), seorang ulama besar Andalus yang berhasil menyelamatkan Andalus dari perpecahan para penguasanya. Nasehat bagi kedua anak laki-lakinya itu ditulis dengan dengan alasan yang disampaikan di awal nasehat,
“Wahai anak-anakku, semoga Allah memberi kalian berdua petunjuk, bimbingan, taufiq dan menjaga kalian berdua. Serta berkenan memberi kalian berdua kebaikan dunia dan akhirat. Semoga Dia menjaga kalian berdua keburukan keduanya dengan rahmat Nya.
Sesungguhnya ketika kalian berdua telah hampir mencapai usia harusnya kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban, mendapatkan taklif (beban syariat) dan aku yakin bahwa kalian berdua telah mampu memahami nasehat, melihat petunjuk dengan jelas, layak untuk mengajar dan berilmu, maka aku harus memberikan kepada kalian berdua wasiatku, mempersembahkan nasehatku, khawatir kematian mendahului ayah dan belum sempat mengajari, melatih, memberi petunjuk dan memahamkan kalian berdua.
Jika Allah memanjangkan usia; nasehat, pengajaran, petunjuk dan pemahaman ini akan berulang. Yang memberi taufik kepadaku hanyalah Allah, kepada Nya aku bertawakal dan orang-orang bertawakal. Di tangan Nya hati dan ubun-ubun kalian berdua.”
Nasehat ditulis dengan sangat berurut. Sangat jelas bahwa Abul Walid seorang ulama yang mengerti tentang urutan materi pendidikan. Isi nasehatnya dimulai dari hal yang paling penting yaitu aqidah, kemudian ibadah hingga muamalah antara mereka berdua dan dengan masyarakat luas. Berikut ini di antara isi nasehatnya tentang Al Quran,
“Bersabarlah untuk menghapalnya dan membacanya, selalu mentafakuri makna dan ayat-ayatnya, melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.”
Abul Walid juga memberi nasehat tentang hal-hal yang harus dijauhi, di antaranya,
“Jauhilah oleh kalian berdua lagu-lagu. Karena lagu-lagu itu menumbuhkan fitnah dalam hati dan melahirkan lintasan-lintasan jelek dalam jiwa.”
Berikut ini salah satu nasehat tentang interaksi antar dua anak tersebut,
“Jangan sampai salah seorang di antara kalian berdua lebih mendahulukan dirinya dalam hal dunia. Sehingga membuatnya menjadi pelit kepada saudaranya. Kemudian berpaling darinya dan bersaing dengannya. Siapa di antara kalian berdua yang diberi keluasan dalam hal dunia, maka ikut sertakan saudaranya, jangan hanya sendirian. Bersemangatlah untuk mengembangkan harta saudaramu, sebagaimana kamu bersemangat mengembangkan hartamu sendiri.”
(Budi Ashari)
http://parentingnabawiyah.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar