Assalamu'alaykum..... ahlan wa sahlan... Subhanallah wa bihamdi adada kholqi wa ridho nafsi wa dzinata arsy wa midada kalimati..

Sabtu, 04 Februari 2012

KUNCI KEBAHAGIAAN RUMAH TANGGA

.

Mengulas tentang fenomena rumah tangga, saya yakin pasti selalu menarik. Pasalnya, selain setiap orang pada akhirnya akan berumah tangga, dan dalam berkeluarga selalu menghadirkan ragam problematika yang bagi sebagian orang, membutuhkan solusi yang tidak mudah. Bahkan bersifat dilematis. Karena itu, setefah edisi sebelumnya yang juga mengulas soal-soal rumah tangga, kali in saya kembali mengangkat fenomena satu ini.
Saya pribadi, memiliki beberapa alasan kenapa soal-soal rumah tangga sangat penting dibahas. Pertama, karena kebahagiaan kita yang tertinggi sekaligus penderitaan batin kita yang terdalam selalu datang dari rumah. Kalau kita menghadapi masalah di tempat kerja atau di pergaulan sosial, sakit hatinya tidak terlalu dalam dibanding kalau kita punya masalah dengan suami/istri dan anak/orang tua.
Sebaliknya, kalau rumah tangga kita tentram, penuh kasih dan cinta dan keceriaan, maka tidak ada kesenangan di tempat lain yang bisa menandingi kebahagiaan yang kita temukan dalam keluarga yang harmonis. Jadi penting sekali kita punya pengetahuan & ketrampilan yang memadai dalam mengelola perkawinan dan rumah tangga ini, jika kita memang ingin bahagia.
Alasan kedua, karena kebahagiaan dalam perkawinan dan keluarga itu tidak datang begitu saja. Jangan pernah berpikir “Godaan beg itu banyak dan dahsyat, pekerjaan begitu bikin stress. Anak-anak semakin sulit dikendalikan, komitment pernikahan semakin rendah dan kita semakin kekurangan teladan positif. Jadi kalau kita punya skap go with the flow. Ikut arus saja, maka berhati-hatilah.” pokoknya sudah nikah. Sudah begitu kita jalani saja, nanti otomatis akan bahagia.
Kalau memang ini yang terjadi, maka angka perceraian di negara kita dan bahkan di seluruh dunia tidak meningkat drastis dalam beberapa dekade belakangan ini. Jadi kalau mau membangun keluarga yang kokoh dan bahagia, diridhoi Allah dan membawa berkah untuk umat, kita harus sungguh-sungguh memperjuangkannya. Memperjuangkan itu artinya kita harus:
Bertekad untuk dengan sungguh-sungguh mau membangun keluarga yang kuat & bahagia, strong and happy family.
Belajar bagaimana caranya memiliki rumah tangga yang seperti itu — belajar dari literatur agama, belajar dan penelitan para ahli masalah keluarga dan belajar dari orang-orang yang sudah berpengalaman dan terbukti keluarganya memang ok.
Melakukan yang dipelajari itu dengan sepenuh hati, istiqomah, dan sepenuh keikhlasan. Kalo mau nyetir mobil saja kita harus belajar dulu dan ambil SIM, mau kerja kita sekolah dulu bertahun, maka mestinya dengan tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi, untuk mengarungi bahtera rumah tangga kita mestinya juga harus belajar dulu, dan ambil SIM (surat ijin menikah) dulu. Kalau “asal dijalani aja”, ya jangan heran kalau baru menikah udah ruwet urusannya, menderita berkepanjangan atau bahkan bercerai, naudzubillahi min dzalik.
Ketiga, karena lingkungan di sekitar kita dan dunia ini makin lama makin tidak family friendly. Karena itu, jangan bandingkan jaman kita sekarang ni dengan jaman ayah-ibu kita dulu.
Zaman dulu lingkungan sosialnya sangat “pro-family”. Kita nggak pake banyak belajar-pun keluarga kita aman-aman saja and asyik-asyik aja. Tetapi zaman sekarang? Kalau kita punya sikap yang sama seperti itu, maka bakal dimakan habis arus sosial yang makin lama makin tidak family friendly. Lihat saja di televisi, koran, internet dan lingkungan disekitar kita. Godaan begitu banyak dan dahsyat, pekerjaan begitu bikin stress, anak-anak semakin sulit dikendalikan, komitmen pernikahan semakin rendah dan kita semakin kekurangan teladan positif. Jadi kalau kita punya sikap go with the flow. Ikut arus saja, maka berhati-hatilah, karena tidak seperli dulu.
Pasalnya, “flow”nya kebayakan menuju surga, sekarang “flow”nya ini banyak yang menuju neraka. Kita harus buat arus kita sendiri, yang kadang-kadang bahkan melawan arus untuk selamat dan menemukan kebahagiaan kita. Ingat, “hanya ikan mati, yang berenang mengikuti arus”.
Ahmad Faiz Zainuddin
Sumber: majalah Al Madinah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar