.
Mengulas tentang fenomena rumah tangga, saya
yakin pasti selalu menarik. Pasalnya, selain setiap orang pada akhirnya
akan berumah tangga, dan dalam berkeluarga selalu menghadirkan ragam
problematika yang bagi sebagian orang, membutuhkan solusi yang tidak
mudah. Bahkan bersifat dilematis. Karena itu, setefah edisi sebelumnya
yang juga mengulas soal-soal rumah tangga, kali in saya kembali
mengangkat fenomena satu ini.
Saya pribadi, memiliki beberapa alasan kenapa soal-soal rumah tangga
sangat penting dibahas. Pertama, karena kebahagiaan kita yang tertinggi
sekaligus penderitaan batin kita yang terdalam selalu datang dari rumah.
Kalau kita menghadapi masalah di tempat kerja atau di pergaulan sosial,
sakit hatinya tidak terlalu dalam dibanding kalau kita punya masalah
dengan suami/istri dan anak/orang tua.
Sebaliknya, kalau rumah tangga kita tentram, penuh kasih dan cinta
dan keceriaan, maka tidak ada kesenangan di tempat lain yang bisa
menandingi kebahagiaan yang kita temukan dalam keluarga yang harmonis.
Jadi penting sekali kita punya pengetahuan & ketrampilan yang
memadai dalam mengelola perkawinan dan rumah tangga ini, jika kita
memang ingin bahagia.
Alasan kedua, karena kebahagiaan dalam perkawinan dan keluarga itu
tidak datang begitu saja. Jangan pernah berpikir “Godaan beg itu banyak
dan dahsyat, pekerjaan begitu bikin stress. Anak-anak semakin sulit
dikendalikan, komitment pernikahan semakin rendah dan kita semakin
kekurangan teladan positif. Jadi kalau kita punya skap go with the flow. Ikut arus saja, maka berhati-hatilah.” pokoknya sudah nikah. Sudah begitu kita jalani saja, nanti otomatis akan bahagia.
Kalau memang ini yang terjadi, maka angka perceraian di negara kita
dan bahkan di seluruh dunia tidak meningkat drastis dalam beberapa
dekade belakangan ini. Jadi kalau mau membangun keluarga yang kokoh dan
bahagia, diridhoi Allah dan membawa berkah untuk umat, kita harus
sungguh-sungguh memperjuangkannya. Memperjuangkan itu artinya kita
harus:
Bertekad untuk dengan sungguh-sungguh mau membangun keluarga yang kuat & bahagia, strong and happy family.
Belajar bagaimana caranya memiliki rumah tangga yang seperti itu —
belajar dari literatur agama, belajar dan penelitan para ahli masalah
keluarga dan belajar dari orang-orang yang sudah berpengalaman dan
terbukti keluarganya memang ok.
Melakukan yang dipelajari itu dengan sepenuh hati, istiqomah, dan
sepenuh keikhlasan. Kalo mau nyetir mobil saja kita harus belajar dulu
dan ambil SIM, mau kerja kita sekolah dulu bertahun, maka mestinya
dengan tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi, untuk mengarungi
bahtera rumah tangga kita mestinya juga harus belajar dulu, dan ambil
SIM (surat ijin menikah) dulu. Kalau “asal dijalani aja”, ya jangan
heran kalau baru menikah udah ruwet urusannya, menderita berkepanjangan
atau bahkan bercerai, naudzubillahi min dzalik.
Ketiga, karena lingkungan di sekitar kita dan dunia ini
makin lama makin tidak family friendly. Karena itu, jangan bandingkan
jaman kita sekarang ni dengan jaman ayah-ibu kita dulu.
Zaman dulu lingkungan sosialnya sangat “pro-family”. Kita nggak pake
banyak belajar-pun keluarga kita aman-aman saja and asyik-asyik aja.
Tetapi zaman sekarang? Kalau kita punya sikap yang sama seperti itu,
maka bakal dimakan habis arus sosial yang makin lama makin tidak family
friendly. Lihat saja di televisi, koran, internet dan lingkungan
disekitar kita. Godaan begitu banyak dan dahsyat, pekerjaan begitu bikin
stress, anak-anak semakin sulit dikendalikan, komitmen pernikahan
semakin rendah dan kita semakin kekurangan teladan positif. Jadi kalau
kita punya sikap go with the flow. Ikut arus saja, maka berhati-hatilah, karena tidak seperli dulu.
Pasalnya, “flow”nya kebayakan menuju surga, sekarang “flow”nya ini
banyak yang menuju neraka. Kita harus buat arus kita sendiri, yang
kadang-kadang bahkan melawan arus untuk selamat dan menemukan
kebahagiaan kita. Ingat, “hanya ikan mati, yang berenang mengikuti
arus”.
Ahmad Faiz Zainuddin
Sumber: majalah Al Madinah
Sumber: majalah Al Madinah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar