Assalamu'alaykum..... ahlan wa sahlan... Subhanallah wa bihamdi adada kholqi wa ridho nafsi wa dzinata arsy wa midada kalimati..

Rabu, 29 Februari 2012

Peran IBU Anak pun sEHAT jANTUNG,...

ibu lebih dianjurkan untuk tidur dengan bayinya. Menurut penelitian, anak yang tidur dikeloni ibunya sampai umur 3 tahun cenderung memiliki jantung yang lebih sehat.


Anjuran ini disampaikan oleh Dr Nils Bergman, seorang dokter anak dari University of Cape Torn di Afrika Selatan. Dr Bergman juga dikenal sebagai salah satu pelopor gerakan Kangaroo Mother Care, yang menekankan pentingnya kontak fisik antara ibu dan anak.

Dalam sebuah penelitiannya, Dr Bergman mengamati 16 bayi hingga masing-masing berusia 3 tahun. Saat tumbuh dewasa, bayi-bayi yang tidur seranjang dengan ibunya cenderung pnya jantung yang lebih sehat dibanding bayi yang tidur di ranjang terpisah.

Bukan itu saja, bayi yang ditidurkan di ranjang terpisah cenderung mengalami kerusakan di otak yang memicu gangguan perilaku ketika masuk usia remaja. Pengaruhnya di otak salah satunya tampak pada gangguan pola tidur, yakni cenderung tidak pernah nyenyak.

Berbagai penelitian menunjukkan, pola tidur yang tidak baik memang erat kaitannya dengan kesehatan jantung. Ketika seseorang tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak, maka jantungnya akan bekerja lebih keras sehingga lama-lama bisa mengalami stres.

Meski demikian, anjuran Dr Bergman agar anak abyi tidur dengan ibunya hingga umur 3 tahun diyakini akan memicu kontroversi. Bukan karena para bapak akan merasa iri, melainkan terkait dengan penelitian sebelumnya yang justru menganjurkan agar bayi tidur di ranjang terpisah.

Penelitian yang dilakukan di Inggris beberapa tahun silam itu menunjukkan, 2 dari 3 kematian bayi terjadi ketika tidur dengan orangtuanya. Hasil penelitian itu menjadi dasar bagi sebagian pakar, untuk menganjurkan agar bayi tidak dikeloni supaya tidak tercekik.

Namun Dr Berman bersikeras bahwa sebaiknya bayi tetap tidur dengan ibunya, karena kontak fisik antara ibu dan anak terbukti baik bagi jantung. Terkait dengan kematian bayi saat dikeloni, ia berdalih bahwa kematian itu tidak secara langsung dipicu oleh sang ibu.

"Ketika ada bayi tercekik atau sesak napas saat dikeloni, kebanyakan bukan karena ada ibunya di situ. Bisa karena faktor lain seperti asap beracun, rokok, alkohol atau bantal-bantal besar yang sering membekap jalan napas," ungkap Dr Bergman seperti dikutip dari Telegraph, Sabtu (29/10/2011).

http://us.health.detik.com/read/2011/10/29/080322/1755335/764/dikeloni-ibu-sampai-umur-3-tahun-bagus-untuk-jantung-anak

Gadis yang Bermimpi Terlalu Tinggi




gadis itu memandang bulan merah jambu
terlalu tinggi ia coba untuk menjangkaunya
bisakah aku jadi astronot saja
akan aku kejar bulan itu dan kuhadiahkan pada dunia

mereka hanya tersenyum
terlalu tinggi sayang
bulan terlalu jauh untuk kau kejar

kembali gadis itu berlari
memperlihatkan angka raportnya yang nyaris sempurna
bagaimana kalau jadi presiden saja
biar aku tebar kebajikan di negara ini

mereka hanya tersenyum
terlalu rumit sayang
kursi itu terlalu jauh untuk kau duduki

tapi gadis itu selalu ingin untuk bermimpi
biar mimpinya terbentur kasar
terpental kuat
dan kembali menjadi seonggok rindu yang terlalu rapuh
untuk kembali tersemat

cari saja pria baik-baik sayang,,
jadilah wanita baik-baik
jadilah ibu baik-baik
sematkan mimpimu sebatas itu saja

gadis itu menggeleng
memilih untuk terus saja berlari
biar apa yang dikejarnya terlalu semu untuk dirindu

Dan kalaupun nanti mimpi ini sebatas rindu,
biarpun nanti menjadi seorang ibu,
aku memilih untuk terus berlari
akan aku sematkan mimpiku pada anak-anakku
akan kubiarkan mereka yang membawa anganku
akan kubiarkan bulan merah jambu
dan kursi presiden yang kurindu
berada dalam pucuk harapan mereka
agar mereka tahu bahwa mereka dilahirkan dari mimpi dan angan
agar mereka paham bahwa kata-kata tak cukup kuat menghapus rindu seorang gadis
yang bermimpi terlalu tinggi
oleh : mb' Novika

Apakah Anak-ku harus rangking 1?




Si Ranking 23 : “Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”
Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kami  menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: “Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian yang luar biasa”. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.

Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sangat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK?

Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?


Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.
Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi.

Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja.

Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal.

Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.

Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.

Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing.

Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.
Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.


Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar.
Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya.

Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya pun sangat beragam : antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak
berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris.

Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja.

Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dia pun pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.
Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.

Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.


Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini.

Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik.

Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas?

Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi?

Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulahAnak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
- Khalil Gibran

-renungan untuk orangtua-

Kisah pENsIL dan PenGhaPus



Pensil : "Maafkan aku Penghapus..."

Penghapus : "Maafkan aku??untuk apa Pensil?? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun kepadaku..."

Pensil : "Aku minta maaf karena aku telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu berada disana untuk menghapusnya. Namun setiap kali kamu membuat kesalahanku lenyap, kamu kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil dan kecil setiap saat..."

Penghapus : "Hal itu memang benar...Namun aku sama sekali tidak merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta untuk melakukan hal itu. Diriku tercipta untuk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan mengganti diriku dengan yang baru.
Aku sungguh bahagia dengan peranku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih..."


Si Penghapus adalah Orang Tua kita...
Si Pensil adalah diri kita sendiri....

Orang tua akan selalu ada untuk anak-anaknya...
Untuk memperbaiki kesalahan anak-anaknya...

Namun, terkadang, seiring berjalannya waktu...
Orang tua akan terluka dan akan menjadi semakin kecil...
(Bertambah tua dan akhirnya meninggal).
Walaupun anak-anak mereka pada akhirnya akan menemukan seseorang yang baru (Suami atau Istri),
Namun orang tua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.

"Hingga saat ini...

Saya masih menjadi Si Pensil...
Hal itu sangat menyakitkan diri saya...
Melihat si penghapus atau orang tua saya semakin bertambah "Kecil" dan "Kecil" seiring berjalannya waktu.

Kelak suatu hari...
Yang tertinggal hanyalah "Serutan" si penghapus
Segala kenangan yang pernah saya lalui dan miliki bersama mereka..."

Kisah ini saya dedikasikan secara khusus kepada orang tua saya dan seluruh orang tua kalian...

Sabtu, 04 Februari 2012

KUNCI KEBAHAGIAAN RUMAH TANGGA

.

Mengulas tentang fenomena rumah tangga, saya yakin pasti selalu menarik. Pasalnya, selain setiap orang pada akhirnya akan berumah tangga, dan dalam berkeluarga selalu menghadirkan ragam problematika yang bagi sebagian orang, membutuhkan solusi yang tidak mudah. Bahkan bersifat dilematis. Karena itu, setefah edisi sebelumnya yang juga mengulas soal-soal rumah tangga, kali in saya kembali mengangkat fenomena satu ini.
Saya pribadi, memiliki beberapa alasan kenapa soal-soal rumah tangga sangat penting dibahas. Pertama, karena kebahagiaan kita yang tertinggi sekaligus penderitaan batin kita yang terdalam selalu datang dari rumah. Kalau kita menghadapi masalah di tempat kerja atau di pergaulan sosial, sakit hatinya tidak terlalu dalam dibanding kalau kita punya masalah dengan suami/istri dan anak/orang tua.
Sebaliknya, kalau rumah tangga kita tentram, penuh kasih dan cinta dan keceriaan, maka tidak ada kesenangan di tempat lain yang bisa menandingi kebahagiaan yang kita temukan dalam keluarga yang harmonis. Jadi penting sekali kita punya pengetahuan & ketrampilan yang memadai dalam mengelola perkawinan dan rumah tangga ini, jika kita memang ingin bahagia.
Alasan kedua, karena kebahagiaan dalam perkawinan dan keluarga itu tidak datang begitu saja. Jangan pernah berpikir “Godaan beg itu banyak dan dahsyat, pekerjaan begitu bikin stress. Anak-anak semakin sulit dikendalikan, komitment pernikahan semakin rendah dan kita semakin kekurangan teladan positif. Jadi kalau kita punya skap go with the flow. Ikut arus saja, maka berhati-hatilah.” pokoknya sudah nikah. Sudah begitu kita jalani saja, nanti otomatis akan bahagia.
Kalau memang ini yang terjadi, maka angka perceraian di negara kita dan bahkan di seluruh dunia tidak meningkat drastis dalam beberapa dekade belakangan ini. Jadi kalau mau membangun keluarga yang kokoh dan bahagia, diridhoi Allah dan membawa berkah untuk umat, kita harus sungguh-sungguh memperjuangkannya. Memperjuangkan itu artinya kita harus:
Bertekad untuk dengan sungguh-sungguh mau membangun keluarga yang kuat & bahagia, strong and happy family.
Belajar bagaimana caranya memiliki rumah tangga yang seperti itu — belajar dari literatur agama, belajar dan penelitan para ahli masalah keluarga dan belajar dari orang-orang yang sudah berpengalaman dan terbukti keluarganya memang ok.
Melakukan yang dipelajari itu dengan sepenuh hati, istiqomah, dan sepenuh keikhlasan. Kalo mau nyetir mobil saja kita harus belajar dulu dan ambil SIM, mau kerja kita sekolah dulu bertahun, maka mestinya dengan tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi, untuk mengarungi bahtera rumah tangga kita mestinya juga harus belajar dulu, dan ambil SIM (surat ijin menikah) dulu. Kalau “asal dijalani aja”, ya jangan heran kalau baru menikah udah ruwet urusannya, menderita berkepanjangan atau bahkan bercerai, naudzubillahi min dzalik.
Ketiga, karena lingkungan di sekitar kita dan dunia ini makin lama makin tidak family friendly. Karena itu, jangan bandingkan jaman kita sekarang ni dengan jaman ayah-ibu kita dulu.
Zaman dulu lingkungan sosialnya sangat “pro-family”. Kita nggak pake banyak belajar-pun keluarga kita aman-aman saja and asyik-asyik aja. Tetapi zaman sekarang? Kalau kita punya sikap yang sama seperti itu, maka bakal dimakan habis arus sosial yang makin lama makin tidak family friendly. Lihat saja di televisi, koran, internet dan lingkungan disekitar kita. Godaan begitu banyak dan dahsyat, pekerjaan begitu bikin stress, anak-anak semakin sulit dikendalikan, komitmen pernikahan semakin rendah dan kita semakin kekurangan teladan positif. Jadi kalau kita punya sikap go with the flow. Ikut arus saja, maka berhati-hatilah, karena tidak seperli dulu.
Pasalnya, “flow”nya kebayakan menuju surga, sekarang “flow”nya ini banyak yang menuju neraka. Kita harus buat arus kita sendiri, yang kadang-kadang bahkan melawan arus untuk selamat dan menemukan kebahagiaan kita. Ingat, “hanya ikan mati, yang berenang mengikuti arus”.
Ahmad Faiz Zainuddin
Sumber: majalah Al Madinah


puzzles 1: Proposal Wasilahku....

Pekan ini aku bertukar proposal dengannya....dalam proposalku kujelaskan visi-misi , kriteria hingga biodata kedua orang tuaku...

Selang beberapa hari ku dapatkan proposal balasannya,....bahasanya sederhana...tersirat adanya qona'ah dalam sikapnya....subhanallah alhamdulillah ... kau pertemukan ku dengannya, sungguh tak terduga sebelumnya, ada rencana yang indah ternyata yang Engkau karuniakan padaku dibalik kepergian ku dari kotaku... kini saatnya aku ber istikhoroh ...untuk lebih bisa menguatkan diri, mengelola hati, dan menerima diri...
berusaha menjadi insan yang lebih mendekatkan diri padaMu..

biarkan proses berjalan sesuai koridorMu Ya Allah... jaga hati kami , ikatkan kami dalam pernikahan nan suci dan keberkahannya...amin





Bidadari itu adalah Kita

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda: “Selalu wasiatkan kebaikan kepada para wanita. Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas. Jika kalian paksa diri untuk meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika kalian mendiamkannya, ia akan tetap bengkok. Karena itu, wasiatkanlah kebaikan kepada para wanita.” (HR. Al-Bukhari)
Wanita adalah sebuah maha karya Allah. Dibalik kelembutannya ada kekuatan yang dapat menggerakkan sebuah laju peradaban. Islam dengan segala kemuliaannya telah berhasil meletakkan dengan ideal posisi kaum wanita dalam gempita kehidupan. Dan fakta sejarah pun mengungkapnya dengan elok, bahwa di setiap keberhasilan orang-orang besar selalu ada wanita-wanita kuat di belakangnya. Tapi, tidak semua wanita berkenan menempati posisi-posisi itu. Dengan hadirnya racun-racun demokrasi, omong kosong HAM atau bualan feminisme, wanita telah kehilangan karakter-karakter dasar kemanusiaannya. Fungsi-fungsi wanita telah terdistorsi dari letak fitrahnya.
Namun, di tengah kerusakan pemahaman yang semakin kuat, ada sebagian wanita yang tetap menjunjung tinggi martabat mereka. Memelihara nilai-nilai kefitrahan mereka sebagai seorang hamba. Pengorbanan dan perjuangan telah menjadikan para wanita-wanita ini bak bidadari-bidadari surga yang Allah segerakan kehadirannya. Inilah wanita-wanita yang membuat resah para bidadari-bidadari Surga karena kemuliaannya. Menerbitkan cemburu di ufuk hati para bidadari Surga.
1.   Ibu: Oase Cinta Yang Takkan Kering
“Makan malamlah bersama Ibumu hingga ia senang.
 Hal itu lebih aku senangi daripada haji sunnah yang kamu kerjakan.”
(Al-Hasan bin Amr Rahimahullahu)
Hijrah bukan semata keputusan ideologis-teologis, lebih jauh hijrah adalah sebuah keputusan psikologis, terlebih dalam konteks di saat kita dalam posisi seorang anak. Dan hal inilah yang dirasakan oleh seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiyallahu ‘Anhu seorang lelaki mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Aku berjanji setia kepadamu wahai Rasulullah untuk berhijrah. Tetapi aku meninggalkan orang tuaku dalam keadaan terus menangis.” Ucap lelaki itu. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Pulanglah kepada keduanya. Buatlah keduanya tertawa, sebagaimana kau telah membuatnya menangis.” (HR. Muslim)
Ibu, adalah representasi bidadari surga yang paling terang. Hatinya adalah oase cinta kehidupan yang menyejukkan, airnya bening dan tak pernah menemui kekeringan. Kasih sayang dan pelukannya adalah hembus angin kedamaian. Jasa-jasanya takkan pernah dapat terbilang, sekalipun dengan formula-formula canggih matematika atau fisika modern.
Imam Bukhari dalam Shahih Al Adabul Mufrad No.9 meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa suatu hari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma melihat seorang menggendong Ibunya untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana saja sang Ibu menginginkan. Kemudian orang tersebut bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?”, “Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu” Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.
Pada kisah lain yang diceritakan Abul Faraj Rahimahullahu. Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Umar lalu berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai ibu yang sudah tua renta. Dia tidak menunaikan keperluannya kecuali punggungku yang menjadi tanggungannya. Apakah aku sudah membuatnya ridha dan bisa berpaling darinya? Apakah aku sudah menunaikan kewajiban kepadanya?” Umar Radhiyallahu ‘Anhu menjawab, “Belum”. “Bukankah aku telah membawanya dengan punggungku dan aku merelakan hal itu untuknya.” tukas lelaki itu. “Tapi, dia telah melakukannya dan dia berharap agar engkau hidup dan tetap berada di pangkuannya. Sebaliknya, engkau melakukannya dan berharap untuk segera berpisah dengannya,” tegas Umar Radhiyallahu ‘Anhu, sehingga membuat orang itu tak lagi sanggup mengeluarkan kata-kata.
Sebesar apapun pengorbanan yang kita berikan pada Ibu, se-zarah pun tak akan dapat menggantikan pengorbanan yang diberikan ibu kepada kita. Dengan memahami bahwa bakti dan pengorbanan kita tak akan pernah bisa membalas kebaikan ibu, semoga bisa menyadarkan kita untuk selalu memahami dan menyelami keinginannya.
Di dunia ini, tak akan pernah kita temukan cinta kasih seindah cinta kasih seorang Ibu. Tentang hal ini dengan apik Imam Adz Dzahabi rahimahullahu menguraikan, “Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan yang serasa sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dia telah menyusuimu dengan air susunya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dia bersihkan kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan, dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan kesedihan yang panjang. Dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu, dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka ia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras. Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlaq yang tidak baik. Dia selalu mendoakanmu agar mendapat petunjuk, baik di dalam sunyi maupun ditempat terbuka. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan ia haus. Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat. Begitu berat rasanya bagimu memeliharanya, padahal itu urusan yang mudah…”
Ibu, benar-benar bidadari Surga yang Allah turunkan dengan segera. Maka, sampaikanlah kepadanya betapa kita mencintainya, dan berterima kasihlah atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya kepada kita. Semoga Allah mengampuni dosanya, memberkahi usianya, dan mengumpulkan kita kembali dalam surgaNya.
Ibu, Poros Awal Peradaban
“Karir terbaik seorang wanita adalah menjadi ibu rumah tangga” (Mario Teguh)
Anak yang unggul hanya akan lahir dari ibu yang unggul. Maka, sudah semestinya tidak layak lagi ada pandangan bahwa menjadi Ibu rumah tangga adalah sebuah tindakan pengekangan bagi para wanita untuk mengembangkan potensi-potensinya. Adalah para penganut feminisme, menggugat secara serampangan pembagian wilayah tanggung jawab antara kaum pria dan wanita. Para feminis beranggapan wilayah kerja wanita yang lebih cenderung pada ranah private adalah bentuk ketidakadilan terhadap kaum wanita. Lebih jauh mereka beranggapan melalui keikutsertaan wanita pada ranah publik dapat meningkatkan kualitas dan kapasitas kaum wanita. Benarkah demikian?
Saya selalu ingat apa yang dikatakan ibu saya, “Perempuan bagiannya di rumah, sedang laki-laki di luar rumah.” Sepintas terdengar sangat diskriminatif. Tapi, makin lama saya makin paham bahwa inilah yang dimaksud Job Descpription. Layaknya sebuah organisasi, keluarga pun mutlak memiliki job description. Dan hal yang harus kita pahami adalah tidak ada yang menjamin seorang yang memiliki wilayah kerja di sektor publik akan memiliki kemuliaan dan kualitas lebih baik dari seorang ibu yang memiliki wilayah tanggungjawab pada sektor privat. Karena semua kemuliaan mutlak hanya akan dipetik dari ketaqwaan dan ketaatan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga kita dapat renungkan apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. An-Nisaa’ ayat 32, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Ibu, sebagai seorang ‘manajer’ rumah tangga adalah sebuah entitas terpenting dalam konteks pembentukan sebuah generasi. Tanpa seorang ibu yang berkualitas takkan lahir para manusia-manusia berkualitas. Ibulah, madrasah peradaban yang paling awal. Dari para ibulah cetak biru sebuah poros peradaban ditentukan. Kesungguhan para ibu men-tarbiyah keturunannya adalah langkah nyata rekonsiliasi sebuah bangsa. Dan kerja-kerja macam ini, bahkan para bidadari surga pun belum tentu mampu melakukannya. Dengan kesungguhan inilah, bahkan para bidadari pun akan mencemburuinya.
2.   Wanita Shalihah: Pesona Di atas Pesona
Ia mutiara terindah dunia
Bunga terharum sepanjang masa
Ada cahaya di wajahnya, Betapa indah pesonanya
Bidadari bermata jeli pun cemburu padanya
Kelak, ia menjadi bidadari surga, Terindah dari yang ada

(Hanan)
Ya, bidadari surga yang Allah segerakan berikutnya adalah wanita shalihah. Konteks tulisan ini sama sekali bukan tentang fisik. Kita hanya akan membahas hal-hal substansial yang bernama kesalehan. Untuk itu, cukuplah dialog penuh ‘ibrah antara Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang didokumentasikan oleh Imam Ath-Thabrani sebagai pecut penyemangat, pengobar ruh kesalehan.
Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Wahai Rasulullah, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jelaskanlah kepadaku firman Subhanahu wa Ta’ala tentang bidadari-bidadari yang bermata jelita.” (QS. Ad-Dukhan: 54) Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.”
Aku berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, “Laksana mutiara yang tersimpan baik.” (Al-Waqi’ah: 23) Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”
Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (Ar-Rahman: 70) Beliau menjawab, “Akhlaqnya baik dan wajahnya cantik jelita.”
Aku berkata lagi, “Jelaskan kepadaku firman Allah, “Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik.” (Ash-Shaffat: 49) Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”
Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, Penuh cinta lagi sebaya umurnya” (Al-Waqi’ah: 37) Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”
Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli” Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”
Aku bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?” Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga? Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaqnya paling bagus, lalu dia berkata, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaqnya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya”. Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”
Keshalihan dan akhlaq baiklah sumber kemuliaan, semoga kita dapat meraihnya. Amiin.

Rabu, 01 Februari 2012

BARA ASMARA (Barakah = Sakinah+Mawaddah+WaRahmah)

BARA ASMARA Barakah = Sakinah + Mawaddah+ WaRahmah 

Sakinah (Ketenangan/Ketentraman)

Sakinah diikat oleh halaqah yaitu penciptaan secara mutlak, Allah yang mengaruniakan pada jiwa masing-masing individu.... sakinah dari jiwa diri mereka sendir yang sama-sama beriman yang dipertemukan dalam ikatan suci pernikahan (mitsaqan ghaliza).... Jagalah dirimu dan keluargamu dari apai neraka..... (At_Tahrim: 56) 

Ketika seorang anak perempuannya dilamar oleh seorang laki-laki maka pilihlah yang baik agamanya dan akhlaknya...karena akan mendukung ke sakinahannya nanti. Akan timbul fitnah jika hanya melihat dari kecantikkan atau ketampananya, nasab/kedudukannya, hartanya. karena jika kita pilih karena agamanya dan mencintainya maka akan mulia..meskipun tak mencintai maka tak akan menyakiti istrinya,.


Ketika seorang wanita ingin mengetahui bagaimana si calonnya maka lihatlah: 
a. Bagaimana akhlaknya terhadap kedua orang tuanya... 
b. Bagaimana akhlaknya pada anak kecil... 
c.Bagaimana akhlaknya pada karib sahabatnya.... Pada sahabatnya ia akan menghormati shabat-sahabatnya dan taka menggunjingi sahabatnya.. 
pada ke sakinahan akan timbul suasana yang baik dalam tarbiyatul aulad atau pendidikan anak-anaknya...demi generasi penerusnya nanti yang akan senantiasa melukiskan kalimat "Laillaha illalah" di muka bumi ini. 

Mawaddah (Cinta yang ber Gelora dan mendahulukan atau mengutamakan yang dicintai)

sifatnya berbeda dengan sakinah , mawaddah diikat oleh Ja'ala yaitu ikhtiar masing-masing individu atas ridho Allah SWT. Allah ya Bari memberi ruang untuk amsing-masing berkarya dan berusaha... Tentu perlu ILMU dan Ketrampilan khusus dalam mengkespresikan Cintanya... adanya mawaddah akan menimbulkan gairah semangat hidup dan beramal..sehingga senantisa Zikrullah dan mendekatkan diri pada Allah Saat suami bekerja...teringat sang istri saat sebelum berangkat mencium tangannya dan berkata "suamiku aku lebih sabar dalam menahan lapar daripada dikau memberiku sesuatu yang haram". alangkah terharunya sang suami dan akan teringat selalu akan pesan sang istri agar ingat Ada Allah... 
Mawaddah dapat diraih dengan memberi kejutan-kejutan yang bermakna bagi pasngannya..tak perlu dengan barang-barang mahal seperti mobil, emas , berlian...namun sesuatu yang sederhana namun berarti seperti ucapan terimaksih saat istri berbuiat kebaikan pada sang suaminya, saat setelah memasak, mengasuh anak seharian ato sebagainya... dengan selembar kertas berisi "Wahai isriku Aku mencintaimu karena ke sholehanmu" dan ditempel diruang sholat istrinya... ato di dekat dapur... Kita juga dianjurkan memilih pasngan yang al-walul banyak keturunan/subur dan al-wadud penuh mawaddah.. seperti sabda rasulullah bahwa Rasul akan bangga akan jumlahnya umatnya yang banyak di hari akhir nanti... 

Rahmah (Cinta yang menutamakan yang dicintai karena takut akan menyakiti pasangannya melalui penjagaan dan pengorbanan yang tinggi) 
cinta bukanlah kata sifat namun kata kerja yang mengandung perjuangan...hingga sang maut menjemput... 

adanya SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH Diikat jadi satu dalam 'BARAKAH" yaitu bertambahnya segala kebaikan dalam setiap hal...menambah kedekatan diri pada Allah SWT, dan saling memberi manfaat, "khorunnas anfauhum linnas" jadi tak hanya bahagia karena bahagia pun belum tentu baik saat tak mendekatkan diri kita pada Allah.. misal saat terbawa terbahak-bahak di bioskop.

Saat terjadi kejenuhan /bored... so do some variety... suasana,...tempat (saat makan), menu makanan yang halal dan thoyib... Hendaklah baik suami melihat istri merasa tentram dan senantiasa tertarik pada istrinya

Dalam psikologi karakter suami dan istri berbeda 
suami ibarat 'Karet Gelang" yang bisa ditarik dan diulur...maksudnya??? dalam membangun ego kepemimpinannya sebgai suami sekaligus ayah memang perlu kedekatan khusus (erat) namun mudah terlena atau merasa hilang /linglung... makanya terkadang mereka perlu waktu menyepi dalam rangka mengokohkan kepemimpinannya itu...jadi istri tak perlu galau atau merasa khawatir saat tiba-tiba sang suami menyepi...dia ingin berkhalwat hanya berdua dengan Allah... 
sedangkan wanita ibarat "ombak " ia akan selalu ada...ia ingin suaminya selalu ada didekatnya... 

Saat harus LDR atau berjauhan hubungan, maka tak jadi masalah,..justru akan lebih kuat ikatan hatinya dan managementnya diri justru lebih baik... SAMARA ini akan tetap terjaga dengan pertemuan-pertemuan yang terjadwal dengan baik, tetap kpmunikasi yang baik, dan adanya surprise-surprise dari pasngan masing-masing. Saat menikah maka sang istri wajib mentaati suaminya,..sedangkan sang suami mentaati ibunya... 
Simbol bhakti isri pada suami pada keridhoaan suami...yang dilandasi karena Allah. bahkan saat sang istri bersalah ia akan lakukan sujud ditelapak kaki suaminya agar suaminya ridho kepadanya. 
Saat sang suami melakukan kesalahan sang istri berhak menasehatinya dengan cara yang mulia dan agung atas dasar Allah.. karena ia telah memilih pendampingnya karena Allah atas dasar sholat istikhoroh maka ia takkan menyesal dan ia takkan merugi karena telah bermusyawarah dengan keluarganya... 
Saat memilihnya dengan proses yang bersih....terjaga hukum-hukum syar'inya meski tak mudah... proses yang merupakan wasilah agar terciptanya sakinah mawaddah warahmah full barakah dalam kehidupan pernikahannya nanti...satukan kami baik didunia maupun di akhirat... jadikanlah aku bidadri syurga yang kecantikkannya separuh dari kecantikkan wanita-wanita di dunia seperti siti sarah istri nabi ibrahim AS dan suamiku setampan nabi yusuf pria paling tampan yang ketampananya separuh dari laki-laki di dunia...amin.. (part SAMARA = BARAKAH novelku " Kujemput Jodohku lewat RidhoMu" amin )