Assalamu'alaykum..... ahlan wa sahlan... Subhanallah wa bihamdi adada kholqi wa ridho nafsi wa dzinata arsy wa midada kalimati..

Selasa, 14 Mei 2013

Teladan muslimah


Hendaknya seorang istri berupaya memahami suaminya. Ia tahu apa yang disukai suami hingga ia berusaha memenuhinya. Dan ia tahu apa yang dibenci suami hingga ia berupaya untuk menjauhinya, dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah.

Berikut ini dengarkanlah kisah seorang istri yang bijaksana yang berupaya memahami suaminya.

Berkata sang suami kepada temannya:
“Selama dua puluh tahun hidup bersama belum pernah aku melihat dari istriku perkara yang dapat membuatku marah.”

Maka berkata temannya dengan heran:
“Bagaimana hal itu bisa terjadi.”

Berkata sang suami:
“Pada malam pertama aku masuk menemui istriku, aku mendekat padanya dan aku hendak menggapainya dengan tanganku, maka ia berkata: ‘Jangan tergesa-gesa wahai Abu Umayyah.’

Lalu ia berkata:
‘Segala puji bagi Allah dan shalawat atas Rasulullah… Aku adalah wanita asing, aku tidak tahu tentang akhlakmu, maka terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai niscaya aku akan melakukannya dan apa yang engkau tidak sukai niscaya aku akan meninggalkannya.’ Kemudian ia berkata: ‘Aku ucapkan perkataaan ini dan aku mohon ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu.’”

Berkata sang suami kepada temannya:
“Demi Allah, ia mengharuskan aku untuk berkhutbah pada kesempatan tersebut. Maka aku katakan: ‘Segala puji bagi Allah dan aku mengucapkan shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya. Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang bila engkau tetap berpegang padanya, maka itu adalah kebahagiaan untukmu dan jika engkau tinggalkan (tidak melaksanakannya) jadilah itu sebagai bukti untuk menyalahkanmu. Aku menyukai ini dan itu, dan aku benci ini dan itu. Apa yang engkau lihat dari kebaikan maka sebarkanlah dan apa yang engkau lihat dari kejelekkan tutupilah.’

Istriku berkata: ‘Apakah engkau suka bila aku mengunjungi keluargaku?’

Aku menjawab: ‘Aku tidak suka kerabat istriku bosan terhadapku’ (yakni si suami tidak menginginkan istrinya sering berkunjung).

Ia berkata lagi: ‘Siapa di antara tetanggamu yang engkau suka untuk masuk ke rumahmu maka aku akan izinkan ia masuk? Dan siapa yang engkau tidak sukai maka akupun tidak menyukainya?’

Aku katakan: ‘Bani Fulan yang sebelah situ adalah kaum yang shaleh dan Bani Fulan yang sebelah sana adalah kaum yang jelek.’”

Berkata sang suami kepada temannya:
“Lalu aku melewati malam yang paling indah bersamanya. Dan aku hidup bersamanya selama setahun dalam keadaan tidak pernah aku melihat kecuali apa yang aku sukai.

Suatu ketika di permulaan tahun, tatkala aku pulang dari tempat kerjaku, aku dapatkan ibu mertuaku ada di rumahku. Lalu ibu mertuaku berkata kepadaku: ‘Bagaimana pendapatmu tentang istrimu?’”
Aku jawab: “Ia sebaik-baik istri.”

Ibu mertuaku berkata:
“Wahai Abu Umayyah.. Demi Allah, tidak ada yang dimiliki para suami di rumah-rumah mereka yang lebih jelek daripada istri penentang (lancang). Maka didiklah dan perbaikilah akhlaknya sesuai dengan kehendakmu.”

Berkata sang suami:
“Maka ia tinggal bersamaku selama dua puluh tahun, belum pernah aku mengingkari perbuatannya sedikitpun kecuali sekali, itupun karena aku berbuat dhalim padanya.”

Alangkah bahagia kehidupannya…! Demi Allah, aku (penulis kisah, red) tidak tahu apakah kekagumanku tertuju pada istri tersebut dan kecerdasan yang dimilikinya? Ataukah tertuju pada sang ibu dan pendidikan yang diberikan untuk putrinya? Ataukah terhadap sang suami dan hikmah yang dimilikinya? Itu adalah keutamaan Allah yang diberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki.

Teladan Untuk para istri sholehah..


“FATIMAH anakku, maukah engkau menjadi seorang perempuan yang baik budi dan istri yang dicintai suami?” tanya sang ayah yang tak lain adalah Nabi SAW. “Tentu saja, wahai ayahku”

“Tidak jauh dari rumah ini berdiam seorang perempuan yang sangat baik budi pekertinya. Namanya Siti Muthi’ah. Temuilah dia, teladani budi pekertinya yang baik itu”.

Gerangan amal apakah yang dilakukan Siti Muthi’ah sehingga Rasulpun memujinya sebagai perempuan teladan? Maka bergegaslah Fatimah menuju rumah Muthi’ah dengan mengajak serta Hasan, putra Fatimah yang masih kecil itu.

Begitu gembira Muthi’ah mengetahui tamunya adalah putri Nabi besar itu. “Sungguh, bahagia sekali aku menyambut kedatanganmu ini, Fatimah. Namun maafkanlah aku sahabatku, suamiku telah beramanat, aku tidak boleh menerima tamu lelaki dirumah ini.”

“Ini Hasan putraku sendiri, ia kan masih anak-anak.” kata Fatimah sambil tersenyum.

“Namun sekali lagi maafkanlah aku, aku tak ingin mengecewakan suamiku, Fatimah.”

Fatimah mulai merasakan keutamaan Siti Muthi’ah. Ia semakin kagum dan berhasrat menyelami lebih dalam akhlak wanita ini. Lalu diantarlah Hasan pulang dan bergegaslah Fatimah kembali ke Muthi’ah.

Khasiat Tiga Benda ‘Keramat’

“Aku jadi berdebar-debar,” sambut Siti Muthi’ah, gerangan apakah yang membuatmu begitu ingin kerumahku, wahai puteri Nabi?”

“Memang benarlah, Muthi’ah. Ada berita gembira buatmu dan ayahku sendirilah yang menyuruhku kesini. Ayahku mengatakan bahwa engkau adalah wanita berbudi sangat baik, karena itulah aku kesini untuk meneladanimu, Wahai Muthi’ah.”

Muthi’ah gembira mendengar ucapan Fatimah, namun Muthi’ah masih ragu. “Engkau bercanda sahabatku? aku ini wanita biasa yang tidak punya keistimewaan apapun seperti yang engkau lihat sendiri.”

“Aku tidak berbohong wahai Muthi’ah, karenanya ceritakan kepadaku agar aku bisa meneladaninya.” Siti Muthi’ah terdiam, hening. Lalu tanpa sengaja Fatimah melihat sehelai kain kecil, kipas dan sebilah rotan di ruangan kecil itu.

“Buat apa ketiga benda ini Muthi’ah” Siti Muthi’ah tersenyam malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. 

“Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. 

Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Iapun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas”

“Sungguh luar biasa pekertimu, Muthi’ah. Lalu untuk apa rotan ini?”

Kemudian aku berpakaian semenarik mungkin untuknya. Setelah ia bangun dan mandi, kusiapkan pula makan dan minum untuknya. Setelah semua selesai, aku berkata kepadanya: “Oh, kakanda. Bilamana pelayananku sebagai istri dan masakanku tidak berkenan dihatimu, aku ikhlas menerima hukuman.
Pukullah badanku dengan rotan ini dan sebutlah kesalahanku agar tidak kuulangi”

“Seringkah engkau dipukul olehnya, wahai Muthi’ah?” tanya Fatimah berdebar-debar.

“Tidak pernah, Fatimah. Bukan rotan yang diambilnya, justru akulah yang ditarik dan didekapnya penuh kemesraan. Itulah kebahagiaan kami sehari-hari”.

“Jika demikian, sungguh luar biasa, wahai Muthi’ah. Sungguh luar biasa! Benarlah kata ayahku, engkau perempuan berbudi baik.” kata Fatimah terkagum-kagum.

 -Aisyah M Yusuf-
(esqiel/eramuslim.com/muslimahzone.com)

Kamis, 02 Mei 2013

"Preseverence"

Ada yang menarik dari kallimat ini."I do not think there is any other quality so essential to success of any kind as the quality of preseverance. It overcomes almost everything, even nature."
-John D. Rockefeller-
Kemudian saya menjadi semakin penasaran untuk mencari lebih jauh tentang preseverance ini, dalam beberapa penjelasan preseverance memiliki makna :
commitment, hardwork, patience, endurance
- able to bear difficulties calmy and without complaint
Menarik skali, kata difficulties dan calmy menyatu dalam satu definisi. Hal ini menyiratkan bahwa tekun itu bermodal kesabaran dan istiqomah..
 ya itulah yang Islam ajarkan kepada kita umat muslim agar senantiasa menjadi umat yang tekun dan istqomah, pada amalan-amalan yang wajib bahkan  dengan amalan yang ringan sekalipun dan berat pada timbangan yakni zikir "subhanallahi wabihamdii adada kholqi wa riidho nafsi wa zinata arsy wa midada kalimatii..

"Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan" (Al-Muzzammil : 8)

Setelah menyelesaikan urusan yang satu dengan sungguh-sungguh, kita dianjurkan untuk segera menyelesaikan pekerjaan lain secara sungguh-sungguh pula.. seperti dalam Q.S. Al-Insyirah ayat 6-7

Mengapa? ya karna pada setiap waktu terdapat haknya...
apabila berlalu waktu mungkin kita masih bisa berfikir oo masih ada hari lain.. tapi apakah kita tahu itu berarti kita telah melalaikan hak dari pada waktu...
Apakah kita bisa menjamin,, 1 detik kemudian kita masih memiliki kesempatan untuk dapat berkata "nanti"...

Oleh karena itu bersegeralah dalam kebaikan, dalam usaha bertaubat karna Allah..